Apa itu Brandjacking – Contoh Brandjacking atau Pembajakan Merek

apa itu brandjacking , brandjacking adalah, Pembajakan Merek

Strategi Bisnis Pengusaha Dunia – Apa itu Brandjacking, Apa Saja Contoh atau Pembajakan Merek , Bagaimana Menjaga Reputasi Brand Anda di dunia maya?

Sebagian perusahaan mungkin masih tidak terlalu peduli dengan strategi online baik SEO ataupun media sosial saat ini. Mungkin saja manfaat social media yang begitu besar di era digital saat ini belum disadari.

Sah-sah saja karena itu merupakan pilihan, hanya saja, perlu diketahui bahwa jika Anda tidak mengelola brand secara online, maka terdapat resiko brandjacking atau pembajakan merek.

Dan memulihkan reputasi akibat pembajakan merek mungkin akan sangat besar biayanya.

Apa itu brandjacking?

Apa itu Brandjacking? Brandjacking adalah kegiatan di mana suatu pihak dengan cara-cara tertentu membajak atau mengakuisisi identitas online pihak lain untuk tujuan memperoleh ekuitas brand atau bisnis tersebut.

Dari definisi tersebut dapat kita pahami juga bahwa brandjacking adalah situasi dimana terdapat pihak lain yang mengakui sebagai perwakilan dari brand Anda, meski sebenarnya tidak.

Secara sederhana apa itu brandjacking adalah penggabungan dari pengertian ‘branding’ dan ‘hijacking’, dan telah digunakan setidaknya sejak 2007 ketika muncul dalam Business Week yang merujuk pada istilah yang digunakan dalam publikasi oleh perusahaan MarkMonitor.

Bagaimana Dampak Brandjacking Terhadap Reputasi Brand

Ada banyak istilah yang serupa antara lain Cybersquatting, Fake blog, Identity theft, Phishing, Subvertising. Akan tetapi term brandjacking lebih dititikberatkan pada serangan atau sabotase terhadap brand image dari perusahaan, organisasi, politisi ataupun public figure.

Artinya bentuk aktivitas ini tidak terang-terangan menargetkan sisi finansial, tapi lebih kepada reputasi dan umumnya terjadi di dunia maya.

Brandjacker umumnya mencoba menghantam reputasi dari targetnya untuk alasan pribadi atau berusaha merusak reputasi dari targetnya untuk menimbulkan konflik, bisa juga karena alasan politik atau suatu bentuk kampanye negatif.

Kendati alasan-alasan yang disebutkan tidak secara langsung menyerang sisi keuangan, tetapi efek pada pemegang merek asli seringkali tetap berujung pada kerugian finansial, bahkan tak jarang lebih destruktif.

Misalnya, publisitas negatif dapat mengakibatkan penghentian kesepakatan sponsor seorang selebriti, atau bagi perusahaan, pembajakan merek berpotensi menyebabkan hilangnya penjualan atau penurunan nilai saham.

Sebagai contoh, saya beri contoh nyata yang hari ini (Juni 2018) masih terjadi , silahkan ketik di google “obat batuk komix”. Apa yang Anda temukan pada halaman pertama? Lihat screenshot di bawah ini.

contoh brandjacking komix, Pembajakan Merek

Kendati nama komix masih menjadi market leader namun, apa yang terjadi pada brand obat batuk komix di dunia maya seharusnya bisa dihindari jika sosial media serta SEO dikelola dengan baik.

Brand awareness dan brand positioning yang dibangun sekian lama menjadi tercoreng ketika kita tidak sanggup mengelola isu negatif di media online.

Dalam krisis semacam ini peran atau tugas humas dalam organisasi dibutuhkan untuk menjaga reputasi bersama dengan social media specialist ataupun SEO specialist.

Brandjacking atau Pembajakan Merek Sebagai Taktik Kampanye

Dilihat dari segi taktik, brandjacking termasuk strategi brand awareness yang ampuh kendati konsekuensi hukumnya juga besar.

Salah satu organisasi yang cukup gencar menggunakan taktik pembajakan merek untuk kepentingan kampanyenya adalah Greenpeace.

Salah satu contoh pembajakan merek yang dilakukan Greenpeace adalah memparodikan iklan produk Kitkat dengan membajak slogan “Gimme a Break” untuk melancarkan kampanye perlawanan terhadap Nestle.

Menurut Greenpeace, Nestle bertanggung jawab karena penggunaan palm oil yang berdampak pada kerusakan hutan hujan Indonesia serta habitat orangutan.

Yang juga tidak kalah serunya ketika Greenpeace berhadapan dengan Shell. Pada Juni 2012, Greenpeace berkolaborasi dengan the Yes! Men (kelompok yang dikenal kerap membuat hoax perusahaan besar), dan anggota gerakan Occupy Seattle.

Mereka berkolaborasi untuk membuat situs palsu bernama ArcticReady.com, sebuah situs parodi yang mengkritik kegiatan pengeboran Shell Oil di Arktik.

Lengkap dengan user-generated ad campaign dan billboards dekat dengan kantor pusat Shell di Houston. Kampanye tersebut meraih awareness dan mendesak Shell sehingga perusahaan tersebut memutuskan untuk menghentikan aktivitas pengeborannya di tahun 2013.

apa itu brandjacking, brandjacking adalah , ArcticReady, Pembajakan Merek
Tampilan situs palsu Shell oleh Greenpeace

Selanjutnya ada kasus antar kompetitor, yaitu McD dan BurgerKing, dimana account twitter Burger King dibajak oleh McD. Namun hal ini tidak sepenuhnya berdampak buruk terhadap BurgerKing karena dalam 30 menit pertama justru account tersebut langsung memperoleh 5000 follower.

apa itu brandjacking adalah, Pembajakan Merek

Pencegahan Brandjacking atau Pembajakan Merek

Pada banyak kasus, beberapa pembajakan merek dianggap legal dan masuk kategori satire dalam dunia maya. Lantas apa yang bisa diperbuat oleh sebuah brand untuk menghindari pembajakan merek?

Berikut adalah beberapa upaya untuk menjaga reputasi Anda di dunia online dan menghindari brand Anda dari apa itu brandjacking adalah sebagai berikut:

Go Online – Pertama, mau tidak mau, suka tidak suka, Anda wajib menginvestasikan waktu, tenaga, dan biaya pada media online, baik itu hasil pencarian di google ataupun sosial media.

Listen and Monitor – Gunakan Monitoring tools – Berhati-hatilah jika ada ‘tweet palsu’ di luar sana dengan memantau penyebutan merek Anda dengan alat seperti Gorkana Radar, Hootsuite atau Mention.

Moderation – Pertimbangkan opsi Anda untuk menghapus konten, Apakah konten bersifat memfitnah, atau hanya satir? Akankah dengan menanggapi melalui komentar (atau tindakan hukum) membuatnya lebih baik, atau lebih buruk?

Official Channel – Perjelas melalui saluran resmi Anda sendiri bahwa Anda mengetahui adanya konten palsu, dan informasikan ke publik bahwa itu tidak benar.

Respect the community – Bersahabat dengan media online, blogger ataupun influencer Ibukota lebih kejam dari ibu tiri, ada yang lebih kejam dari ibukota? ibu jari netizen.

Waspada Terhadap Streisand Effect

Streisand Effect adalah kondisi yang kerap terjadi kepada pihak yang sebenarnya berusaha untuk mengelola opini publik. Penyebaran informasi di internet begitu deras dimana setiap menit terdapat hampir 3 juta video ditonton di youtube.

Bisa dibayangkan perbedaan tantangan yang dihadapi sebuah brand untuk mempertahankan reputasi di era digital dibandingkan sebelum kehadiran internet.

Streisand Effect adalah sebuah fenomena dimana upaya menyembunyikan, menghapus, atau menyensor informasi justru memiliki konsekuensi yang sebaliknya tidak diinginkan.

Alih-alih berhasil menghapus informasi dari publik, kondisi tersebut malah membuatnya menjadi lebih banyak tersebar daripada sebelumnya sebagai reaksi terhadap upaya penyensoran.

Leave comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *.